SHALAWAT: KUNCI MENGGAPAI CINTA ILAHI
“Sesungguhnya
Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang
yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam
penghormatan kepadanya”.
(QS. Al Ahzab [33]: 56).
Kita akan dianggap sebagai manusia yang ahsan (paling
baik) apabila iman menjadi landasan kita untuk berakvitas dan amal
shaleh sebagai pendukung (Q.S at-Tien [95]: 4-6). Kita juga akan
mendapat kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah swt. serta kita akan
mendapat cinta ilahi, jika mengikuti sunnah Nabi saw. Sebaliknya kita
akan diremehkan dan jauh dari Allah swt jika tidak mengikuti Nabi saw
sebagaimana firman-Nya, “Katakan (wahai Muhamad) jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan
mengampuni dosa-dosa kamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Ali Imran [3]: 31).
Menurut Ibn Atha’illah mengikuti Nabi terwujud
dalam dua aspek, yaitu aspek lahiriyah dan batiniyah. Aspek lahiriyah
adalah amalan ibadah berupa shalat, puasa, zakat, haji, jihad di jalan
Allah, serta berbagai ibadah lainnya. Sementara aspek batiniyah berupa
keyakinan akan adanya pertemuan dengan Allah. Dalam shalat misalnya,
jika disertai kekhusyukan dan perenungan-perenungan (tadabbur)
terhadap bacaan-bacaannya, maka akan terasa kedahsyatan dan kekuatan
dari bacaan itu. Belasan anak panah yang menancap pada Khalifah Umar bin
Khattab tidak terasa sakit karena sedang asyik berdialog dengan Allah
dalam shalatnya.
Apabila kita melakukan amal ketaatan yang
dicontohkan oleh baginda nabi Muhammad saw seperti shalat dan membaca
Alqur’an namun kita tidak bisa merasakan kehadiran Allah atau tidak
merasa bahwa Allah melihat kita saat itu, tidak memiliki rasa takut (khauf), tidak memiliki rasa cinta (hubb), tidak memiliki pengharapan (raja’) tidak bisa men-tadabburi berarti penyakit batin telah menghinggapi kita, entah itu karena kesombongan, ujub, dengki, syirik, ria’, dan sifat-sifat madzmumah lainnya.
Sikap ‘ittiba’ (mengikuti dengan sepenuh
jiwa raga) akan menyebabkan seseorang seolah-olah menjadi bagian dari
orang yang diikutinya walaupun ia orang asing atau tidak mempunyai
hubungan kekerabatan dengannya. Misalnya Salman al Farisi yang oleh
Rasulullah saw dinyatakan, “Salman termasuk keluraga bagi kami.”
Tentu saja Salman berasal dari Persia dan bukan keturunan Quraisy.
Bahkan ia mantan budak yang diperjualbelikan di pasar. Namun karena
mengikuti Nabi saw, ia lalu dianggap bagian dari keluarga Nabi saw.
Demikianlah Nabi Muhammad saw. mengajari umatnya, ini sebuah isyarat
bahwa amal shalih akan mengangkat pelakunya pada derajat yang tinggi
lagi mulia.
Sebagaimana sikap patuh dan taat akan mengikat
jalinan ukhuwah atau hubungan, sikap membangkang juga menyebabkan
putusnya hubungan seperti yang terjadi pada Kan’an putra nabi Nuh as.,
juga sebagaimana terjadi pada istri nabi Nuh as. dan nabi Luth as.
sebagaimana dikisahkan dalam Alqur’an, Allah membuat istri Nuh dan
istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada dibawah
pengawasan kedua hamba-Ku yang shalih tetapi keduanya telah mengkhianati
suami mereka, maka suaminya tiada dapat membantu mereka sedikit pun
dari (siksa) Allah dan dikatakan pada keduanya, masuklah kalian berdua
ke dalam nereka bersama yang lainnya.” (Q.S. at-Tahrim [66]: 10).
Sebenarnya kunci dari kebaikan seseorang adalah
ketika mau mengikuti sunnah nabi Muhammad saw. baik dari ucapan maupun
dari perbuatannya, dan selalu merasa cukup terhadap karunia Allah
(bersyukur dan qana’ah), bersikap zuhud terhadap harta milik
orang lain, tidak rakus pada dunia, serta meninggalkan ucapan dan
perbuatan yang tidak berguna, sebagaimana sabda nabi Muhammad saw, “sebagian dari kebaikan seorang muslim adalah meninggalkan sesuatu yang tidak berguna baginya.”
Jika kita mengaku sebagai seorang muslim yang baik sebagaimana yang
digambarkan Rasulullah saw, maka semestinya kita sudah harus
meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaaat.
Bershalawat, Salah Satu Kunci Menggapai Cinta Ilahi
Dalam pandangan Ibn Atha’illah, bershalawat kalau
dari Allah berarti memberi rahmat, dari malaikat berarti memintakan
ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi
rahmat seperti dengan perkataan allahumma shalli ‘ala Muhammad. Dengan mengucapkan perkataan seperti assalamu’alaika ayyuhan naby artinya semoga keselamatan tercurah kepadamu wahai Nabi.
Orang yang tak kuasa alias tidak sempat
memperbanyak amalan ibadahnya seperti berpuasa sunnah dan melakukan
shalat malam atau shalat sunnah lainnya, hendaknya menyibukkan diri
dengan bershalawat atas Rasulullah saw. Seandainya sepanjang hidup kita
melakukan seluruh amal ketaatan, lalu Allah memberikan satu shalawat
saja atasmu, tentu satu shalawat tersebut lebih berat dari semua amal
ketaatan yang kita lakukan selama hidup.
Kita bershalawat sesuai dengan kapasitas kita sebagai manusia. Manusia artinya paling tidak adalah manusia ahsan yang tergambar dalam surat at-Tien [95] ayat 4-6, sementara Allah bershalawat sesuai dengan rububiyah
(sifat ketuhanan)-Nya dan ini baru satu shalawat. Lalu, bagaimana jika
Allah bershalawat sebanyak sepuluh kali atas setiap bershalawat satu
kali atas Rasulullah saw., seperti yang diterangkan dalam hadits Nabi
saw. dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali.” (H.R. Muslim dan Abu Dawud).
Siapa yang dibukakan pintu oleh Allah untuk mengikuti Nabi Muhammad saw. itu bertanda bahwa ia telah dicintai-Nya, Katakanlah:
“Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang (Q.S. Ali Imran [3]: 31). Arti shalawat tidak
hanya membaca yang bersifat bacaan melainkan juga meneladani Nabi saw.
dalam segala aspek. Allah swt menjelaskan dengan firman-Nya, “Dan
sesungguhnya Rasul Allah itu menjadi ikutan (tauladan) yang baik untuk
kamu dan untuk orang yang mengharapkan menemui Allah di hari kemudian
dan yang mengingati Allah sebanyak-banyaknya.” (Q.S. al-Ahzab [33]:
21). Seakan ayat ini menyatakan bahwa tidak usah kita melakukan apapun
kecuali mencontoh perilaku Rasulullah saw.
Betapa indahnya hidup ini jika kita isi dengan taat
kepada Allah, yaitu dengan cara berdzikir pada Allah dan sibuk
bershalawat atas Rasulullah saw di setiap waktu disertai dengan hati
yang ikhlas jiwa yang bening, niat yang baik dan perasaan cinta pada
Rasulullah saw. Tidak cukup hanya bershalawat saja, karena yang
terpenting adalah kita harus yakin benar bahwa Rasulullah saw. adalah
suri tauladan sepanjang zaman. Jikalau kita ikut dalam tuntunan beliau,
insya Allah akan selamat dunia dan akhirat.
Siapa pun kita, laki-laki maupun perempuan, apa pun
amal keseharian kita, kaya, miskin, dan lain sebagainya, Allah tak
pernah membedakan itu semua, yang dilihat adalah tingkat ketaqwaan kita
pada-Nya dan kebeningan hati kita dalam menjalani hidup. Sebagaimana
diterangkan dalam Alqur’an surat al-Hujurat [49] ayat 13: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertaqawa diantaramu. Dalam kesempatan lain Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya
Allah tidak melihat seseorang dari ketampanan atau kecantikan, pakaian,
dan harta yang melimpah melainkan Allah melihat hamba-Nya dari hatinya.”
Demikianlah Rasulullah saw. mengajarkan pada umatnya, jika ingin
menggapai cinta-Nya kuncinya adalah kita tingkatkan iman dan ketaqwaan
kita pada Allah dan memperbanyak shalawat atas Rasulullah saw.
Meskipun kita tidak se-masa atau se-zaman dengan
nabi Muhammad saw., setidaknya kita bisa meneladaninya melalui para
ulama, yang mana mereka adalah pewaris dari para nabi dan kita juga bisa
berdoa untuk mendapatkan seluruh kebaikan dengan mengikuti akhlak
Rasulullah saw. Maka dari itu berdo’alah: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar bisa mengikuti Rasul-Mu saw. dalam ucapan maupun tindakan.” Melestarikan sunnah dan bershalawat pada Rasulullah, itu merupakan salah satu kunci menggapai cinta Allah sebagai Rabb al-‘Âlamîn.
Bakhil, Tanda Jauh dari Allah
Janganlah sampai kita lupa untuk membaca shalawat
kepada Rasululah saw. jika kita menyebut namanya atau mendengar namanya
disebut, maka seyogyanya kita bershalawat padanya dan kita akan terbebas
dari kebakhilan. Karena Rasulullah saw. pernah bersabda: “Orang bakhil adalah orang yang mendengar namaku disebut tetapi ia tidak membaca shalawat kepadaku.”
Jika kita tidak berbuat demikian maka dalam kategori ini kita bisa disebut bakhil jiddan (sangat pelit). Bakhil merupakan salah satu dari sifat madzmumah
(perangai jelek) dan termasuk sifat tercela. Bakhil yang disebut di
sini tidak lain adalah bakhil terhadap diri sendiri, sebab ketika
seseorang mengucapkan shalawat satu kali kepada Nabi saw. maka Allah azza wa jalla
akan menyampaikan shalawat dan salam kepada orang tersebut sepuluh kali
lipat lebih banyak. Barang siapa yang tidak mau bershalawat kepada Nabi
saw. maka ia mengkategorikan dirinya sendiri sebagai orang bakhil.
Bukan bakhil terhadap orang lain, tetapi bakhil terhadap dirinya sendiri
lantaran telah mencegah Allah memberinya shalawat sepuluh kali. Ini
pertanda orang tersebut dengan perbuataannya sendiri telah menjauhkan
diri dari Allah swt. Ashlih nafsaka wad’u ghairaka!
Wallah-u a’lam bi ash- Shawab.
0 Response to "SHALAWAT: KUNCI MENGGAPAI CINTA ILAHI"
Post a Comment