Makanan Sufi adalah Dzikrullah
Anak-anak
sekalian, jujurlah padaku. Lepaskanlah sebagian hartamu yang ada di
rumahmu. Aku tidak punya keinginan sedikitpun kecuali kejujuran dan
keikhlasanmu, bukan untukku, tetapi demi untukmu. Peganglah dengan kuat
ucapanmu, lahir dan batin, karena ada malaikat yang selalu mengawasi
lahiriyahmu, sedangkan Allah Azza wa-Jalla yang mengawasi batinmu.
Hai orang yang membangun istana dan apartemen, yang umurnya hilang
dalam pembangunan dunia, yang tidak menegakkan bangunan dengan niat yang
shaleh. Padahal membangun dunia itu fondasinya adalah niat yang saleh,
bukan membangun dengan fondasi nafsu dan kesenanganmu. Hanya orang
bodoh yang membangun dengan nafsu dan kesenangan, watak dan tradisinya
tanpa disertai aturan yang jelas dan keselarasan dengan ketentuan Allah
azza wa-Jalla dan tindakanNya.
Ia membangun tidak disertai keserasian yang benar dan tidak
dipersiapkan untuk apa ia membangunnya, lalu orang lain yang
menempatinya. Kemudian di hari kiamat ia ditanya, “Untuk apa kamu
membangun? Darimana uang kamu dapatkan? Untuk apa uang itu kamu
salurkan? Semua dihisab. Karena itu carilah ridhoNya dan carilah
keserasian dengan kehendakNya. Terimalah apa yang telah dibagikan
padamu, dan jangan berburu yang bukan bagianmu. Nabi Saw, bersabda:
“Siksa Allah Azza wa-Jalla paling pedih pada hambaNya di dunia adalah perburuannya pada bagian yang bukan bagiannya.”
Datanglah kepadaku, dan apa yang ada padamu dengan baik sangka padaku, sungguh kalian akan bahagia dengan ucapanku.
Celakalah, kamu mengakui sebagai muslim, sementara kamu menentang
Allah azza wa-Jalaa, kontra pada hamba-hambaNya yang saleh. Kamu dusta
dengan pengakuan itu. Islam itu bersumber dari kata Istislam, yang
berarti menyerahkan diri pada ketentuan Allah Azza wa-Jalla, pada
takdirNya, serta rela dengan tindakanNya disertai pijakan pada Kitab dan
Sunnah RasulNya Saw. Jika anda bisa demikian, benarlah Islam anda.
Akibat negatif dari angan-angan panjangmu, membuatmu banyak terlibat
maksiat kepada Allah azza wa-Jalaa, kontra padaNya. Sebaliknya bila anda
membatasi angan-angan anda, kebaikan bakal tiba dengan sendirinya. Maka
peganglah kebaikan itu bila anda ingin bahagia.
Apa pun yang datang padanya, ia raih dengan tangannya, dan ia ridho,
disertai keserasian syari’at, dan kerelaan padaNya, tidak kerena
kerelaan nafsu atau watak diri, tidak pula karena kerelaan syetan,
sungguh, maksudnya Allah Azza wa-Jalla telah menentukan takdir pada
mereka. Bukan berarti mereka tiada, dari berbagai segi mana pun, karena
kita semua tidaklah ma’shum setelah usainya periode Kenabian –semoga
sholawat salam pada mereka-. Jiwanya tenteram, hawa nafsunya dikalahkan,
pengaruh wataknya padam, syetannya terpenjara. Apa yang ada di
tangannya dariNya tidak pernah berputar, tidak pernah berserah atau
mandeg pada sebab akibat, karena tauhid itu bukannya memandang bahaya
dan manfaat datang dari seseorang.
Padahal dirimu itu semuanya nafsu, semuanya penuh selera kesenangan,
semuanya berdasar kebiasaan diri, tak ada sedikitpun tawakal. Sedangkan
bertauhid kepada Allah Swt, awalnya adalah kabar pahit, kemudian berubah
manis, lalu remuk redam, kemudian keterpaksaan, selanjutnya mati, baru
kehidupan yang abadi.
Hinakan dirimu, baru raih kemuliaan. Fakirlah, baru kaya raya.
Awalnya tiada lalu ada bersamaNya, bukan bersama dirimu. Jika dirimu
sabar, maka benarlah apa yang anda kehendaki berserah dengan Allah Azza
wa-Jalla, jika tidak, maka anda tidak meraih yang benar.
Segala hal yang membuat mu sibuk jauh dari Allah Azza wa-Jalla pasti
tercela bagimu, walaupun anda telah melakukan sholat dan puasa, setelah
anda melaksanakan hal-hal yang fardhu dan sunnah. Bila anda melaksanakan
kewajiban puasa, kemudian setelah itu anda lapar dan dahaga ketika
melaksanakan puasa sunnah, namun hati anda tidak hadir di hadapan Allah
Azza-wa-Jalla, tidak bisa muroqobah padaNya, tidak hidup bersamaNya,
dekat padaNya, sungguh anda menjadi hamba yang terhijab, hambanya
makhluk, dan hamba hawa nafsu.
Orang arif biLlah itu senantiasa tegak di hadapanNya di bawah
panji-panji taqarrub padaNya, melalui ilmu dan batinnya, pada saat yang
sama ia menjalankan ketentuan dan takdirNya. Karena itu ia tak berdaya
dalam peran, dirinya tanpa peran, ia bergerak tanpa gerak dari dirinya,
ia diam tanpa diam dari dirinya, dan ia tergolong pada firmanNya Azza
wa-Jalla:
“Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri.” (Al-Kahfi 18)
Ketika sifat tak berdaya muncul, mereka bergerak dengan kemampuan,
sementara ketika tak berdaya mereka diam dan pasrah. Gerak itu ketika
wujudmu ada, dan diam itu ketika wujudmu tiada. Gerak dalam aturan hukum
dan diam dalam ilmu. Sesungguhnya diri anda baru benar jika anda keluar
dari diri anda sendiri, keluar dari nafsu, kesenangan, karakter dan
perilaku secara total. Janganlah anda bergelayut dengan makhluk yang
sesungguhnya tidak memiliki bahaya dan manfaat bagimu, begitu pula
rizkimu. Kecuali bergelayut kepada Allah azza wa-Jalla.
Selamanya anda harus menjalankan perintah dan menghindari
laranganNya. Tak ada yang tersisa di tanganmu, kecuali Allah azza
wa-Jalla, sehingga anda menjadi manusia paling kaya dan pling mulia,
seperti Adam as, segala sesuatu bersujud padanya. Ini semua tersembunyi
dari umumnya akal makhluk, dan banyak diantaranya kaum khusus (khawash)
yang merupakan nukleus dari Adam as dan tergolong meraih lubuk jiwanya.
Hai orang yang sangat sedikit memanfaatkan pengetahuan, lihatlah
mereka ini semula konsentrasi belajar pada kaum Sufi, kemudian mereka
hatinya uzlah dari makhluk, walau lahiriyahnya berinteraksi untuk
membangun dan mendidik sesama, namun batinnya bersama Allah azza
wa-Jalla, senantiasa berbakti dan bersamaNya. Mereka eksis di tengah
makhluk secara syariat, tetapi batin mereka menghindar dari makhluk,
bahkan menghindar dari segalanya.
Secara lahiriyah mereka sibuk dengan aturan hukum, ketika pakaian
mereka kotor, mereka cuci, mereka perbaiki pakaian itu, mereka beri
parfum wewangian. Ketika robek mereka jahit. Mereka inilah pemuka-pemuka
makhluk, laksana gunung-gunung yang kokoh, sedangkan hatinya senantiasa
bersama Allah Azza wa-Jalla, lunglai di hadapanNya, senantiasa
muroqobah padaNya dan tenggelam dalam pengetahuanNya.
Ya Allah jadikanlah dzikir kepadaMu sebagai konsumsi kami, dan berikanlah rasa puas kami dengan mendekat kepadaMu. Amin.
Sedangkan hati anda, mati.kawan-kawan anda adalah oerang-orang yang
hatinya mati. Seharusnya anda bergaul dengan orang yang hatinya hidup,
para kekasihNya yang Nujaba’, dan kaum abdal. Anda adalah kuburan yang
mendatangimkuburan. Mayat yang mendatangi mayat. Masa anda adalah zaman
yang menmggiring anda seperti zaman anda. Orang buta yang menuntun
orang buta seperti anda. Karena itu bergaullah dengan orang yang
beriman, yang yaqin dan saleh. Bersabarlah dengan ucapan-ucapan mereka,
terima dan amalkan, maka anda akan bahagia.
Terimalah ucapan-ucapan para Syeikh, amalkan dan hormati mereka jika
anda ingin bahagia. Aku punya seorang Syeikh, apabila ada problema dalam
diriku, dan ungkapan dalam hatiku, aku tidak ingin mengutarakan
padanya, semata karena rasa hormatku padanya, dan adab yang baik yang
harus kulakukan. Aku tak pernah berguru dengan seorang Syeikh, kecuali
aku sangat hormat padanya dengan adab yang bagus.
Seorang Sufi tidak pernah pelit, karena memang tidak ada yang tersisa
pada dirinya, karena segalanya sudah ia tinggalkan. Jika ia diberi
sesuatu, maka sesuatu itu diberikan lagi pada orang lain, bukan untuk
dirinya. Hatinya sudah bersih dari materi yang ada dan fenomena gambaran
yang ada. Orang pelit itu adalah orang yang menyimpan hartanya.
Sedangkan para Sufi hartanya untuk orang lain. Bagaimana ia akan pelit
dengan harta milik orang lain? Sedangkan ia tidak membenci dan
menyenangi harta itu, tidak pula berpaling pada harta tersebut, bahkan
tidak butuh pujian, tidak peduli cacian, tidak memandang pemberian,
pencegahan, bahaya dan manfaat, dari selain Allah azza wa-Jalla.
Mereka ini tidak gembira dengan kehidupan, juga tidak gelisah dengan
kematian. Yang dinilai sebagai kematian manakala ia mendapatkan amarah
Tuhannya, dan yang disebut kehidupan adalah ridhoNya itu sendiri.
Kecemasannya ketika dalam kesibukan ramai, dan kebahagaiannya ketika
dalam kesendirian. Konsumsi makannya adalah dzikir kepada Tuhannya Azza
wa-Jalla, dan minumannya bersumber dari kemesraan denganNya. Bagaimana
mereka disebut pelit dengan benteng dunia dan seisinya, sedangkan mereka
tidak butuh semua itu?
Ya Tuhan kami, berikanlah kami di dunia kebajikan, dan di akhirat kebajikan (pula), dan lindungi kami dari ‘azab neraka.
0 Response to "Makanan Sufi adalah Dzikrullah"
Post a Comment